Jumat, 14 Februari 2014


PENAKU BERBINCANG

Menolehlah dalam diriku
Aku berada dalam ruangan kosong yang tak berarti
Diriku terus bergerak mencari celah setitik cahaya dalam kekosongan ini
Liriklah dalam diriku
Aku berada dalam keramaian aktifitas manusia
Namun diriku tak berarti dimata mereka
Aku tenggelam, terhanyut dalam pusaran air yang menggulung dalam ombak dan terhempas ketepi laut menjadi sampah yang tak berdaya
Tak ada yang melihatku dan memungut diriku
Aku terus bergerak melambaikan tanganku diatas lembaran-lembaran kertas kosong
Berusaha menuliskan tinta warna-warni
Penaku tak berawal dan tak berakhir
Ini cerita yang abstrak tak berlakon dan tak tersetting
Terus bergerak menuju tangga impian di akhir betas pengharapan
Sejarah hidupnya dikenang oleh dunia karena penanya
Diriku yang kosong ini seperti sampah yang tak bernyawa
Aku tak ingin pergi kealam sang ilahi tanpa torehan sejarahku dalam dunia ini
Aku pun ingin dikenang dan diperbincangkan di dunia meskipun ragaku telah kaku
Biarlah pena ku yang akan berbicara di dunia nyata.

Selasa, 07 Januari 2014

CINTA DALAM SECANGKIR TEH

Musim hujan menderai desa ini, desa kecil sederhana  namun penuh kenangan cinta dan kehangatan kasih sayang. Selimut, secangkir teh makanan berminyak mungkin yang di butuhkan untuk melengkapi deraian hujan yang nikmat ini.
Pita hijau dengan kaos berwarna-warni berlenggok-lenggok  diatas panggung menjadi tontonan yang menarik bersama secangkir teh hangat. Alunan lagu keroncong bercampur koplo dangdut berbaur menjadi satu  bait lagu, yang liriknya menceritakan tentang gadis yang tak mampu berucap  dengan cintanya hanya sorotan mata dan hatinya lah yang mampu menerjemahkan ada cinta yang hakiki yang perlu ia bebaskan dari padang cinta yang gersang.
Hanyut dengan musim dangdut, terlenakan dengan liriknya yang menyentuh, membuatnya tersadar begitu ia sangat mencintai sesosok yang jauh disana disebrang desa kecil ini.
Secangkir teh menjadi saksi kehangatan rindunya kepada sesosok bayangan berkopiah, berjenggot tipis tersenyum tertunduk malu seraya berkata “aku mencintaimu karena Allah”. Secangkir teh yang hangat pun tak kuasa mendengar lafas cinta dari sesosok bayangan itu. Kehangatan  teh pun redup kemudian perlahan  membeku dalam kedinginan menjadi secangkir es teh yang jauh lebih nikmat dihirup dimusim ini. Tak peduli secangkir teh hangat atau pun secangkir es teh di musim dingin ini karena itu tetap  saja kusebut dengan teh dalm cangkir. Hangat dan dingin teh itu adalah variasi rasa dalam mencintaimu.

Sabtu, 14 Desember 2013

KARENA DIRI INI MANUSIA
(“waterearth_goes”)

Langkah tak berujung
Kegagalan tiada henti
Kelelahan, keletihan tak pernah redah
Berteriak aaahhhh….!
Lepaskan belenggu ini dari hidupku
Lepaskan aku dari cengkraman gelapnya dunia
Tuhan berikan cahayamu….
Gerakkan langkahmu menuju peristirahatan terakhir
Agar aku bisa tenang dan tak melihat lagi sibuknya urusan dunia
Aku bukan malaikat….
Aku bukan syetan…
Yang bisa hidup tanpa beban
Yang hanya menjalankan amanah, tetapi diri ini adalah manusia, manusia putus asa
Hidup dalam kegelapan dunia yang berusaha mencari titik terang sebuah kebahagiaan dengan kebebasan hidup.




JUTAAN DOSEN BERPERANG DALAM PIKIRAN MAHASISWA
(“waterearth_goes”)

Duduk sejenak membayangkan rutinitas yang tertumpuk dalam sebuah kesendirian di perpustakaan daerah. Rutinitas yang membuat mahasiswa lelah, lelah akan peradaban, lelah akan amanah yang tak berujung.
Mahasiwa kata yang bermakna luar biasa untuk dimiliki setiap manusia.
Mahasiwa sebagai penggerak, Mahasiwa sebagai generasi muda bangsa.
Tetapi tahukah engkau bahwa aku adalah mahasiswa yang lelah akan sebuah peradaban, lelah akan sebuah pemikiran, lelah akan sebuah aktivitas kemahasiswaan.
Tahukah engkau mahasiswa selalu punya hubungan erat dengan dosen, hubungan yang membodohkan diri ini, hubungan yang memberontakkan diri ini bukan karena sebuah tugas yang tak berujung tetapi sebuah amanahnya yang tak dijalankannya
MENGAPA DEMIKIAN?
Dosen yang bertitle Master  guru besar dan  mengajarkan banyak hal tetapi terkadang  mereka hanya terlena dan menari-nari dengan jabatan nya, mereka tak tahu bahwa mereka punya amanah, amanah untuk menyampaikan ilmu mastrenya tetapi apa yang didapatkan mahasiswa? Pembodohan, pemberosan waktu, materi dan tenaga.
MENGAPA DEMIKIAN?
Kami hanya diperbudak dengan pembeyaran SPP/Semester diberikan tugas setinggi gunung Himalaya  dan memberikan waktu belajar yang tak cukup dikelas
Mereka hanya asyik dengan uangnya, sekolahnya diluar negari dan asyik dengan popularitasnya. Dan kami hanya sebagai alat untuk menganggap dirinya sebagai seorang dosen.




PERPUSTAKAAN PUN MENANGIS
(“waterearth_goes”)

Tertata rapi dirimu dalam kaca yang indah, tak berdebu, tak kusut dan tetap tegak. Kau menanti rombongan  manusia yang akan menghampiri dirimu. Kau selalu berpenampilan rapid an menawan agar dirimu diminati dan dilirih oleh manusia-manusia yang haus dalam dunia membaca. Tapi sayang dirimu hanya sebagai hiasan sebuah kaca yang berderet-deret indah, tak ada yang menjamah maupun menyapa dirimu. Kemana mereka? Apakah mereka tak tahu keberadaan mu atau mereka pura-pura tak mengenal dirimu? Kau tetap tegar menanti kami untuk datang walaupun hanya sekedar menyapa. Kesejukan dengan putaran angin yang melambai-lambai di dinding atap melengkapi keberadaan mu sedih rasanya melihat dirimu. Kau dicetak untuk memperkaya ilmu kami, kau di hiasi  cover warna-warni untuk membahagiakn kami. Tetapi mengapa kami tak jua menghampiri mu?  Padahal dirimu tak berbeda dengan mereka-mereka yang tercetak tapi mereka jauh lebih beruntung dibandingkan dirimu. Mereka terpampang di kaca keramain  manusia, dipusat persinggahan kami, sedangkan dirimu berada di sudut kota tak terlihat oleh  kasat mata. Hanya gerakan hati yang terpancar cahaya koneksimu yang bisa melirikmu, dan hari ini aku pun melirik dan menyentuh mu kau begitu indah dan sangat berbeda dengan mereka yang tercetak di pusat keramaian kota, keberadaan mu yang membuatmu berbeda dari cetaka-cetakan yang lain “ Cetakan Buku Di Perpustakaan Balai Penelitian Makassar”